Harian Dewata

TNI, Polri, dan BIN Optimal Jaga Keamanan Selama KTT G20

TNI, Polri, dan Badan Intelijen Negara (BIN) terus bersinergi untuk mengoptimalkan situasi kondusif selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan diselenggarakan tanggal 15-16 November 2022 mendatang.

KTT G20 adalah acara berstandar internasional, yang didatangi para pemimpin negara-negara di dunia, sehingga faktor keselamatan mereka wajib diutamakan.

Indonesia bangga karena menjadi Presidensi G20 tahun 2022 dan Bali dipilih menjadi venue utama G20 karena sudah beberapa kali dijadikan tempat pertemuan dan forum internasional. Sebanyak 28 delegasi dari berbagai negara akan datang, yang terdiri dari 19 anggota G20 dan 9 negara yang diundang.

Faktor keamanan tentu saja menjadi hal utama saat sebuah event global seperti G20 berlangsung, karena dalam acara internasional, jangan sampai ada kesalahan satu pun. Jangan sampai nama baik Indonesia sebagai presidensi malah tercoreng karena pihak keamanan kecolongan ketika KTT dimulai.

Oleh karena itu, pengamanan terus dilakukan sejak jauh-jauh hari, dan ada kolaborasi antara TNI (Tentara Basional Indonesia), Polri (Kepolisian Republik Indonesia), dan BIN (Badan Intelijen Negara).

Presiden Jokowi meminta TNI dan Polri serta BIN bersinergi untuk mensukseskan KTT G20. Menurut beliau, Indonesia diberi kepercayaan untuk memberikan kontribusi kepada dunia. Tahun ini (walau di masa sulit), Indonesia menjadi Presidensi G20. Selain itu, Indonesia juga dipercaya jadi anggota Champion Group Global Crisis Response.

Presiden Jokowi menambahkan, tahun depan Indonesia akan menjadi ketua ASEAN. Indonesia harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kepemimpinan di G20 bisa menghasilkan aksi dan solusi yang konkret agar krisis dunia tidak berlanjut, dan membangun dunia yang lebih mampu menghadapi tantangan-tantangan ke depan.

Dalam artian, Presidensi G20 sangat penting karena yang dipertaruhkan adalah kepercayaan dari banyak negara lain. Selama ini Indonesia sudah memiliki nama baik dan dipercaya oleh banyak pihak untuk jadi pemimpin. Oleh karena itu, KTT G20 harus berlangsung dengan sukses 100%. Untuk mendukung acara ini maka faktor keamanan wajib diutamakan, agar tidak ada teroris atau pihak lain yang mengganggunya.

Selama ini Bali dikenal sebagai island of paradise dan para delegasi G20 sudah mengenal Bali sebagai objek wisata favorit. Namun bisa jadi di antara mereka ada yang masih mengingat peristiwa Bom Bali, padahal kejadiannya sudah lebih dari 20 tahun lalu. Oleh karena itu dalam KTT G20, TNI, Polri, dan BIN bekerja keras untuk mengamankan sekaligus mengubah agar tidak ada stigma negatif akan Bali dan Indonesia.

Panglima Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana Mayjen TNI Sonny Aprianto, yang mengemban amanah sebagai komandan Satuan Tugas Pengamanan Wilayah Bali untuk G20, akan mengerahkan 6.000 personel pasukan TNI untuk satuan tugas pengamanan wilayah. Kodam IX/ Udayana juga sedang menyiapkan 2.000 prajurit untuk siaga mengantisipasi bencana alam.

Pengamanan untuk antisipasi bencana alam dilakukan karena di Bali ada 11 potensi bencana alam. Mulai dari tsunami hingga letusan gunung api. Para prajurit akan siaga di berbagai titik penting di Bali, terutama di pintu-pintu masuk (seperti bandara dan pelabuhan) untuk menjaga keamanan.

Prajurit TNI akan berkolaborasi dengan anggota Polri hingga BIN, agar pengamanan di berbagai sektor dapat dilakukan se-optimal mungkin. Sebanyak 1.365 polisi akan siaga dalam mengamankan KTT G20. Mereka adalah pasukan gabungan dari Polda Bali dan BKO Mabes Polri.

Faktor keamanan benar-benar dinomorsatukan dalam penjagaan KTT G20. Tak hanya selama acara berlangsung, tetapi juga sebelum dan sesudah KTT. Penjagaan memang harus dilakukan dengan ketat dan ada kolaborasi yang bagus antara TNI dan Polri.

Mereka sama-sama menjaga agar tidak ada kekacauan selama KTT G20 berlangsung, dan sekaligus menjaga nama baik Indonesia.

Sementara itu, BIN juga ikut andil dalam menjaga keamanan selama KTT G20 berlangsung. Wawan Hari Purwanto, juru bicara BIN, menyatakan bahwa persiapan pengamanan KTT G20 terus dilakukan sebagai upaya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para tamu sebagai langkah preventif. Pengamanan dan penjagaan dilakukan secara maksimal, demi menjaga citra dan nama baik Indonesia di mata dunia.

Untuk mengamankan KTT G20 maka BIN menjaga ketat setiap pintu masuk dan keluar Bali. Di antaranya Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, dan Pelabuhan Gilimanuk. Tujuannya untuk mencegah pelaku kejahatan. Pencegahan dilakukan untuk mengantisipasi resiko sekecil apapun, agar KTT G20 berlangsung dengan aman.

Jangan sampai di pintu-pintu masuk dan keluar Bali malah didatangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu wajar jika keamanan diperketat.

Apalagi jelang KTT berlangsung pada bulan November. Tiap orang yang datang ke Bali wajib diperiksa, tak hanya KTP dan kartu identitasnya yang lain, tetapi juga tujuannya. Hal ini bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan cara agar mengamankan KTT dari segala macam kemungkinan terburuk.

Untuk mengamankan KTT G20 maka harus ada kolaborasi dari TNI, Polri, dan BIN. Mereka bekerja sama agar KTT berlangsung tanpa kendala dan tidak ada oknum yang sengaja mengacaukannya. Segenap pasukan dikerahkan dan pintu masuk serta keluar Bali dijaga, untuk meminimalisasi potensi kejahatan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *