Harian Dewata

Peningkatan Wawasan Kebangsaan Cegah Penyebaran Paham Radikal di Kalangan Mahasiswa

Ancaman dari kelompok radikal yang semakin nyata, utamanya mengancam generasi penerus Bangsa seperti para mahasiswa. Maka dari itu harus ada peningkatan wawasan kebangsaan demi mencegah hal tersebut terjadi.

Penyebaran paham radikal sejauh ini memang masih ada terus mengancam seluruh masyarakat, terutama dengan memanfaatkan kemajuan di era serba teknologi dan arus informasi yang begitu deras pada jaman ini. Hal tersebut kemudian membuat para propagandis kelompok radikal mampu untuk bergerilya dengan berselancar di media sosial untuk terus menyebar luaskan paham mereka dan menyasar ke generasi pemuda utamanya.

Bahkan tidak bisa dipungkiri, beberapa perguruan tinggi pun kerap kali justru menjadi salah satu sarana paling empuk untuk bisa terus menanamkan dan memperlebar sayap gerakan-gerakan radikalisme dengan mencuci otak para generasi penerus Bangsa. Biasanya, mereka akan bergerak dengan memanfaatkan beragam aktivitas mahasiswa yang diselenggarakan untuk menarik minat para mahasiswa tersebut.

Mengenai hal tersebut, Kombes Pol Boy Rafli Amar selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa untuk mampu melawan dan mencegah terjadinya penyebarluasan gagasan radikalisme, maka seluruh sivitas akademika di dalam perguruan tinggi harus meningkatkan kepekaan mereka termasuk juga terus aktif dalam memberikan edukasi nilai-nilai keagamaan yang sesuai dengan ajaran sebagaimana mestinya serta gagasan nasionalisme juga harus terus diperkuat.

Boy menambahkan, justru lantaran para mahasiswa ini sekarang sangatlah akrab dengan yang namanya dunia maya, maka itu akan menjadi tantangan tersendiri sebab akan sangat mudah dimasuki pemahaman dan gagasan dalam bentuk apapun, tak terkecuali radikalisme. Maka yang mampu untuk mencegah dengan sangat efektif adalah tidak lain dan tidak bukan merupakan langkah dari dalam diri mereka masing-masing dengan terus meningkatkan daya tahan dari infiltrasi nilai yang tidak sesuai dengan NKRI.

Terdapat poin menarik yang ditegaskan oleh Kombes Pol Boy, mengenai kewajiban untuk menguatkan nilai-nilai agama, lantaran memang sejauh ini kelompok-kelompok radikal akan sering menyusupi paham mereka dengan dibalut seolah-olah itu adalah sebuah ajaran agama yang murni sehingga narasi sesungguhnya untuk berujung pada tindakan terorisme bisa disamarkan dan lebih mampu menarik minat simpatisan.

Padahal, lebih lanjut, Kepala BNPT tersebut menambahkan bahwa sejatinya ajaran agama tidak ada yang menghalalkan tindakan kekerasan untuk tujuan tertentu. Justru ajaran agama akan selalu menyebarluaskan cinta kasih dan perdamaian diantara sesama umat manusia tanpa terkecuali. Maka sudah sangat jelas sekali bahwa corak dalih keagamaan yang dibawa oleh para kelompok teroris bukanlah merupakan ajaran agama yang murni melainkan sudah sarat akan kepentingan mereka.

Selain itu, mengenai wawasan kebangsaan atau nasionalisme dan pemahaman mengenai konsensus bernegara juga tidak kalah pentingnya untuk terus digaungkan karena para generasi penerus Bangsa ini harus mengerti dan memahami bagaimana landasan dasar dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana yang digagas oleh para pendiri Bangsa.

Untuk itu, saat ini pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sendiri terus melakukan sosialisasi dengan menggandeng sejumlah universitas dengan maksud mampu untuk mencegah lingkungan kampus agar supaya tidak dimanfaatkan oleh jaringan terorisme tersebut. BNPT sendiri juga akan terus melakukan kajian bersama pihak kampus terkait dengan isu-isu mengenai radikalisme dan terorisme yang berkembang dewasa ini.

Sementara itu, di pihak lain, kampus sendiri saat ini tengah terus mengembangkan Kawasan Terpadu Nusantara yang telah didirikan berkat kerjasama dengan pihak BNPT untuk mampu melakukan deradikalisasi berbasis kesejahteraan. Pembentukan kawasan terpadu itu diharapkan akan sangat membantu apabila ternyata terdapat beberapa oknum di kampus atau bahkan masyarakat yang terbukti ikut organisasi radikal sehingga bisa disadarkan namun tetap dengan pendekatan kekeluargaan dan kesejahteraan.

Terkait dengan penyampaian Kombes Pol Boy Rafli, Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo juga menambahkan komentar yang senada, bahwa memang seluruh sivitas akademik memang sudah sepatutnya dan sangat penting turut berperan dalam pencegahan paham radikalisme yang bermuara pada tindakan terorisme. Beliau juga sempat menyinggung tentang Tridharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang semuanya harus selaras dengan upaya untuk meminimalisasi tindakan terorisme akibat penyebaran gagasan radikalisme.

Mengenai pendidikan sendiri, Prof Widodo menyampaikan kalau nilai-nilai terkait cinta Tanah Air memang hal yang sangatlah penting untuk terus digaungkan kepada seluruh mahasiswa lantaran apabila mereka sudah tertanam dalam jiwanya raa cinta tersebut, maka seluruh kerangka berikir yang dia miliki pasti akan jauh lebih terbuka dan juga inklusif sehingga tidak sempit seperti pada pemahaman para kaum radikalis.

Kemudian, Rektor Brawijaya ini juga menambahkan bahwa sifat dari generasi muda biasanya akan cenderung untuk melakukan pencarian jati diri lantaran mereka memang secara emosional pun belum cukup matang dan stabil, sehingga pastinya akan sangat rawan apabila dalam proses pencarian jati diri itu ternyata malah disusupi oleh kelompok radikal. Untuk itu pihak kampus akan terus berusaha membuka seluas-luasnya cakrawala mahasiswa supaya mereka sadar akan adanya perbedaan dan mampu bertoleransi.

Upaya peningkatan wawasan kebangsaan memang menjadi hal yang sangat penting karena mampu membuka sudut pandang para mahasiswa dengan jauh lebih luas sehingga mereka mampu bertoleransi ketika menjumpai perbedaan. Pola pikir demikian akan mencegah generasi penerus Bangsa dari perusakan yang terus disebarkan oleh kelompok radikal.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *