Harian Dewata

JOKOWI MEREDAM USAHA MAKAR GATOT DKK DAN MEREFORMASI TNI

Saya sangat salut dengan kecerdasan Pak Jokowi meredam para pengkhianat bangsa yang ingin mengembalikan bangsa menjadi bangsa yang fasis bukan main-main ketika tahun 2014 awal menjadi Presiden dia ada dalam lingkaran para bajingan politik yang berkuasa saat itu bisa dibayangkan wakil presidennya Jusuf Kalla yang menjadi junjungan Rizieq Shihab Imam Besar FPI ketua DPRnya Setya Novanto yang akhirnya ditahan kasus e ktp melalui berbagai drama Kapolrinya Sutarman yang merupakan orang dekat SBY belum lagi kekuasaan di Parlemen dikuasai KMP (Koalisi Merah Putih) yang punya suara dominan 60% dibanding Koalisi Indonesia Maju yang hanya 40%. Tapi dia tetap mampu keluar sebagai pemenang.

Saya ingat betul ketika Joko Widodo baru diangkat menjadi Presiden suasana politik langsung memanas terlebih lawannya adalah seorang yang sangat dekat dengan prajurit TNI, Prabowo Soebianto belum lagi Gatot Nurmantyo memang sangat dekat dengan SBY mantan presiden yang memang mendukung barisan penentang pemerintah.

Saya bukan membanggakan diri jadi anak tentara tapi Saya sangat faham doktrin di TNI apalagi pada saat kekuasaan Orde Baru dimana terjadi perubahan Platform dari Nasionalis menjadi Nasionalis anti PKI , Pancasilais dan demokrasi terpimpin. Banyak kalangan awam kurang mengerti tapi Itulah kenyataannya Karena semua harus sejalan dengan kekuasaan Orde Baru. Loyalitas itu dibangun sejak seseorang Masuk Tentara bahkan seorang yang akan menyandang perwira tinggi terutama yang sudah menimba ilmu diluar Negeri harus Masuk lagi Sesko TNI dan Lemhanas untuk menjamin loyalitasnya terhadap Orde baru. tidak sampai disitu masih Ada Pola screening dan Dewan Pertimbangan Jabatan yang harus diketahui Presiden bila seseorang akan memegang jabatan strategis .


Ok saya tidak akan membahas Hal itu terlalu jauh.


Bisa dibayangkan sosok Jokowi yang tidak Pernah menjadi tentara tiba-tiba menjadi Panglima tertinggi di Negeri ini.


Ketika beliau menjadi Presiden dia mengangkat Jendral Gatot Nurmantyo (GN) menjadi Panglima TNI.


Hal tersebut sangat diluar dugaan karena Gatot adalah Jendral yang dekat dengan para lawan politik Jokowi apalagi seharusnya menjadi jatah TNI AL bukan AD tapi itu adalah hak Prerogatif presiden .


Ketika Gatot menjadi Panglima TNI munculah rumor bahwa kekuasaan Jokowi diramalkan tidak akan sampai selesai akhir Masa jabatannya , ada yang bilang Tak akan sampai 3 Tahun terlebih MenkoPolhukamnya adalah


Laksamana Purn Tedjo Edhy Purdijatno adalah pesanan dari JK yang belakangan ternyata dekat dengan Cendana.,


Kita tentu ingat manuver GN ketika menjadi Panglima TNI dari mulai isyu PKI bangkit hingga menuduh Polri membeli senjata ilegal dan berindikasi melaksanakan Kudeta alasan-alasan tersebut adalah langkah Panglima TNI untuk mendapatkan mandat untuk menggerakkan pasukan tapi tak pernah berhasil (Pakde dilawan).


Akhirnya diketahui pemasok senjata ilegal itu adalah dari 3 jendral yang merupakan lawan-lawan politik Jokowi ,yaitu Mayjen Pur Kivlan Zen, Mayjen Pur. Soenarko dan mantan Kapolda Metro Komjen Sofyan Jacob yang pada akhirnya menjadi tersangka Makar.


Bisa dibayangkan jika mandat itu didapat bertepatan dengan Gerakan 212, GN mungkin akan jadi Presiden.


Akhirnya saya faham.kenapa Jokowi menunjuk GN sebagai Panglima TNI , rupanya beliau Ingin mereformasi Angkatan Darat, GN lebih mudah dipantau karena tanggung jawabnya langsung dibawah Presiden, kemudian mengangkat Mulyono yang relatif tidak banyak bermanuver sebagai KASAD dan mengangkat orang kepercayaannya Andika Perkasa sebagai Dan Paspamres.


Ketika muncul polemik pengangkatan Kapolri seharusnya Budi Gunawan yang dijatuhkan oleh KPK (yang saat itu Juga berpihak kepada lawan politiknya ) BG akhirnya menjadi Kepala BIN tentu jabatan yang dekat dengan presiden sambil beejalannya waktu mengorbitkan Tito Karnavian menduduki posisi Kapolri , kemudian Jokowi mengganti semua Direktur Badan Intelejen ABRI.


Saya mulai berpikir ini adalah strategi jitu dimana ruang lingkup GN tidak akan leluasa , tidak lama kemudian Jokowi mereshufel kabinet dengan mengganti Tedjo dengan Wiranto .


Hmm sebuah langkah cerdas! Dalam jangka waktu 3 tahun beliau berhasil mereformasi Angkatan Darat dengan orang-orang dekatnya.Untuk Angkatan Udara seperti Kita ketahui KASAU saat itu adalah Marsekal Hadi Tjahjanto adalah orang dekat Jokowi begitupula dengan Angkatan Laut tidak begitu Ada permasalahan.


Ketika peristiwa 212 GN tidak bisa leluasa mengorganisir pasukan TNI dan mandat menggerakkan pasukan tetap Ada pada presiden karena dia dikelilingi orang dekat Jokowi sehingga walaupun gerakan tersebut mampu melengserkan Ahok tapi tidak mampu melengserkan Jokowi walaupun dibantu kekuatan financial dan politik yang sangat kuat pada saat itu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *